LDR (long disappointed religionship)
One doesn’t simply, menjalin hubungan jarak jauh, terkoyak oleh perbedaan keyakinan yang begitu menyulitkan. Ya, begitu mungkin yang pernah gue alami. Gue jatuh cinta sama seseorang yang beda keyakinan sama gue. Entah apa yang salah dari gue waktu itu.
Tapi menurut gue, cinta tak pernah benar-benar salah, jika hanya dilandasi perbedaan keyakinan.
Waktu itu, gue masih duduk di kelas satu SMA. SMA gue boarding school, jadi tempat tinggal gue adalah asrama. Di asrama ini banyak terjadi kisah absurd. Entah dari kekonyolan, kebersamaan, dan kisah percintaan (dengan asrama putri tentunya).
Udah ah, jangan ngomongin asrama. Entar dia besar kepala, terus ngeliat gue, terus kepikiran, terus jatuh cinta, terus gue mesti gimana? Gue bergejolak dalam polemik.
Suka sih sama asrama.. cuma sampe sekarang belum berani nembak aja.. Ya biasalah.. namanya juga anak muda..
Karena kehidupan sehari-hari terjadi di asrama, jadi setiap kegiatan juga dilakukan sama-sama. Dari makan sama-sama, pergi ke sekolah sama-sama, nyuci sama-sama, hingga pada waktu itu ada yang sempet boker sama-sama. Setelah diselidiki lebih lanjut, ternyata itu kucing.
Aku boleh bilang ‘hufft’?
Yak, semua dilakukan sama-sama. Jadi yang jomblo hidupnya mesti tentram nih di Asrama.. Dan karena semua di lakukan nyaris selalu bersama, tak pernah menutup kemungkinan hati ini untuk jatuh cinta. Sebab cinta itu bisa karena terbiasa..
Ganteng-ganteng gini, gue juga suka nulis diary. Dan.. inilah kisah-kisah yang gue tulis dengan hati membiru, di hamparan kertas pilu, dan kugores keras-keras menggunakan tinta yang mengiris kalbu.
…
Dear diary,
Rada heran kan pukul 7.00 masih di asrama? Ya, karena jarak sekolah gue dengan asrama bisa di tempuh cukup menggunakan bonus bicara setiap mengisi ulang pulsa di ponsel anda.
Lima menit saja..
Ya, kalau mau naik awan kinton sih, bisa lebih cepat. Sayang, ngetem-nya lama.
“Kami saling berpapasan, tapi tak saling sapa. Seperti dua ekor angsa yang saling melewati satu sama lain, tapi tak pernah mau membuka sayapnya untuk saling berkemuka.”
“.. Kami pun saling berpapasan, melewati satu sama lain, tanpa ada satu gerik yang tergerak. Awalnya semua terasa biasa saja, langkah demi langkah kami saling mengkayuh, detak demi detik kami saling menjauh. Setelah beberapa langkah menjauhi bayangannya, ada sesuatu yang aneh. Hati ini seolah-olah berkata, “Berpalinglah, lihatlah dia dari kejauhan..”. Aku pun bingung dengan hati ini, ada apa gerangan. Apa yang telah memaksanya hingga menyuruhku untuk berpaling. Karena penasaran dan ingin menemukan jawabnya, aku pun berpaling dan melihatnya dari kejauhan. Aku temukan jawabannya..
..Dia juga melakukan hal yang sama.
Dan dari situ pula aku mengetahui, kalau ada sesuatu yang dapat dimulai untuk diceritakan. Sesuatu yang begitu menggugurkan perasaan. Yaitu, cerita cinta.”
Tissue mana tissue.
Popcorn mana popcorn.
Tiker mana tiker.
Kira-kira begitulah asal-muasal gue bertemu dengan si doi. Sekilas tapi membekas. Secarik tapi menarik.
Oke, sampai di mana diary gue tadi?
Namun hingga jam sekolah hari ini habis, aku tak juga berjumpa dengannya. Ke mana dia sosok yang membuat aku bersemangat untuk pergi ke sekolah hari ini? Ke mana dia yang kemarin buat aku terbias karena bayangnya? Namun hingga perjalanan pulang, aku tak juga menemukan jawabnya. Siapa gerangan dirinya..
Ah sudahlah.. Mungkin belum sekarang aku memperjelas siluet wajahnya.
Jarum jam menunjukan pukul 14.30, dan jam sekolah siang pun dimulai.”
Gak, banget.
Hiiii..
“.. aku pun bergegas pergi ke sekolah, dengan wajah penuh peluh bermandikan terik matahari. Semangatku benar-benar hilang siang ini. Aku berjalan melewati koridor sekolah, menuju kantin sekolah. Mungkin dengan membeli minuman yang segar dan membasuh kerongkongan gersang ini dapat memulihkan semangatku. Dan ternyata benar. Sebelum sampai di kantin, terlihat sosoknya dari kejauhan. Kali ini dia tidak sendirian, dia bersama teman dekatnya. Terlihat sekali dari jauh canda-tawa mereka. Aku pun mendekati seolah-olah tak menghiraukan. Kami berpapasan, dan kemudian sahabatnya berkata “Ehem!” lalu aku berpaling dan melihat wajahnya, ternyata dia tersipu malu..”
“Bila di ibaratkan, kau adalah tanda titik dan aku adalah tanda koma. Kita berbaris sejajar, saling melengkapi kata membentuk kalimat, hingga membentuk sebuah barisan yang indah, yang kita sebut.. Paragraf”
“.. Aku hanya bisa tersenyum dengan kejadian hari ini. Dan sampai saat ini, aku tak pernah melupakan sedikitpun tentangnya. Mungkin karena dia begitu jelas terbayang, atau aku yang terlalu mengenangnya secara mendetail.
Entahlah..
Setidaknya aku telah melihat dengan jelas senyum kecilnya ketika berpapasan denganku.
Senja pun berganti malam. Dan hingga larut, aku belum juga bisa tertidur karena kejadian hari ini. Aku ingin sekali datang ke tempat tidurnya, dan memburu malamnya, agar dia bisa bermimpi, tanpa tertidur.
Dan dari malam itu aku tahu satu alasan mengapa semuanya berbeda.
Aku sedang jatuh cinta.”
Satu hal yang selalu memaksaku untuk berharap. Yaitu rindu.
“Saatku melihatnya pertama kali, aku bertanya. Saat bertemu kedua kali, aku meminta. Saatku menjumpai terakhir kali, aku terluka. Aku jatuh cinta.”
“Terluka. Iya terluka. Aku mencintainya dan sekarang aku terluka. Karena ku tahu, dia telah memiliki seseorang, yang tidak lain dan tidak bukan adalah.. sahabatku sendiri.”
Apa? Iya. Ini gue pencet tombolnya.
Don Juan Skill: Actived.
“Waktu itu aku benar-benar tak tahu kalau dia sedang menjalin hubungan dengan sahabatku sendiri. Posisiku sungguh tanggung. Perasaan ini tak kuasa untuk dibendung. Entah aku harus terus, atau mundur. Tapi aku benar-benar menginginkannya. Dan karena aku lebih memikirkan sahabatku, aku memilih mundur.
Dari kejauhan aku berkata pada bayangan, selamat tinggal harapan.
Ketukan hujan di genting. Jatuh di kepalaku. Membentuk genangan. Berupa kenangan.
Hari demi hari pun berlalu. Tanpa di sadar bayangannya pun terkikis waktu. Saat di sekolah, aku sering melihatnya dari kejauhan. Terkadang kami bertatap muka, tapi tak saling sapa. Entah mengapa dia selalu menunjukan paras, bahwa dia menginginkanku. Lalu aku berdiam lama di kepiluan.
Mengapa aku begitu merindunya?
Mengapa aku harus jatuh cinta pada pacar sahabatku sendiri?
Sesekali kuberanikan diri melihatnya dari dekat, namun dia tak menghiraukanku. Aku berpikir, tidak ada salahnya aku menghubunginya, dan pelan menenangkan raungan hatiku ini.”
Eaa..
Gue penasaran banget dengan doi waktu itu. Dari pada tersiksa dalam keraguan, gue coba minta nomer hapenya dari sahabatnya yang waktu itu jalan dengannya. Pengennya sih minta nomer pager. Tapi berhubung udah gak pake pager, jadi gue minta nomer undian aja. Eh, dia malah ngasi nomer rumah. Nggak mau kalah, gue kasi aja nomer sepatu. Eh, dia balas ngasi nomer ujian. Karna kesal dengan kisah absurd ini, gue bales lagi dengan ngasi nomer satu.
Iya, dia nomer satu di hati gue.
“Aku telah mendapatkan cara menghubunginya. Namun, aku belum berani untuk memulai perbincangan duluan. Kutatap lagi dia dari kejauhan, lalu ku lihat lagi sahabatku. Lalu ku lihat lagi dia.. hal itu kulakukan sampai aku yakin untuk menghubunginya. Pikirku, tidak ada salahnya jika hanya ingin berkenalan. Dan aku melihatnya lagi, dan tersenyum..
Tekadku bulat. Aku akan menghubunginya di kala senja berganti malam. Di saat lelah menjemput tubuhnya, di saat aku pelan meletakkan kecup di keningnya.
Di malam hari, aku masih tak bisa tidur. Aku gelisah. Serasa ada yang mengganjal di hati. Sesekali aku membayangkannya ada di sampingku malam ini. Aku mencium aroma parfumnya. Dan hingga sekarang aku masih mengingat jelas aroma parfumnya waktu itu. Aku tersenyum sendiri, membayangkan dia juga tersenyum kepadaku. Lalu ku lihat handphone ku, mungkin aku harus menghubunginya sekarang.”
“Iya? Ini siapa ya?”
“Ini aku. Irfan..”
“Ah.. ada apa ya fan?”
“Kamu kenal aku?”
“Kenal. Hehe..”
“Kamu tau aku darimana?”
tut.. tut.. tut..
“Tapi kan aku belum… ah. Ya.. bye..”
Apakah ia juga memikirkanku?
Aku akhirnya tidur. Meninggalkan sejuta tanya di kepala. Kemudian hanyut begitu saja.
Beberapa hari kemudian, aku sudah berani menghubunginya. Dan semakin hari, pepesanan di antara kami semakin intens. Ia adalah tanah subur. Aku adalah benih unggul. Aku ingin tumbuh romantis di sana. Tapi aku juga tahu, bahwa aku menempatkan diriku dalam masalah yang besar. Dengan sahabatku.
Hari demi hari pun menjadi seminggu. Tapi ada yang aneh tepat saat satu minggu kami berhubungan melalui pesan singkat. Bahkan ini sudah bukan pesan singkat lagi. Ia tidak membalas pesanku lagi. Aku coba mengirimi dia pesan lagi, dan tetap tidak dibalas olehnya. Aku berpikir, mungkin seharusnya aku tidak terlalu berharap padanya. Ternyata ia berubah, ia mungkin memilih pasangannya sekarang dibandingkan dengan diriku. Aku pun mulai cemas dengan semua ini. Aku tidak tumbuh subur di sana.
Keesokan harinya, kulihat dia berjalan dari kantin menuju ruang kelas. Aku pun bergegas melintasi jalur yang sama namun berlawanan arah. Agar kami bisa berpapasan. Dari jauh kulihat dia, hingga mendekat dan jatuh melewati kedua mataku. Dari jarak beberapa meter, aku berpaling. Mataku tak lagi mencium tubuhnya yang berpaling. Dan benar ternyata. ia berubah.
Ia tak lagi berpaling untuk melihatku.
Apakah aku tak membuatmu kagum lagi?
Apakah kita masih dua ekor angsa?
Di beberapa jarak dari bayanganmu, aku terdiam dari kenanganmu.
Dari sini kusadari, aku jatuh merindu. aku terluka. Karena aku telah kehilangannya..”
“Ketahuilah. Saat kehilanganmu, aku masih juga takut kehilanganmu.”
“Di malam hari, aku terus memikirkannya. Aku merasa, aku begitu merindunya. Maaf sayang, malam ini rinduku tumpah ruah. Maaf jika sampai mengotori bajumu.”
“You can miss someone who died. You can miss someone who moved away. But the worst is, when you miss someone you see everyday..”
If I am James Dean, will you’ll be my Audrey Hepburn?
“Dari malam hingga malam, pagi hingga pagi. Aku terus memimpikanmu. Aku terlalu mendambamu. Aku hanya menikmatimu dari kejauhan. Menikmati dimana aku berada di alam bawah sadar, dan bayanganmu yang menyadarkan, menyisakan sebuah luka.
Kemana sosok yang kemarin aku lihat?
Aku kehilangan, dan kini aku merindukan.”
“Beberapa hari kemudian, aku berusaha melupakanmu. Mungkin kita hanya sebatas hujan. Mampu membasahi, tapi tak mampu memasuki. Mungkin benar apa yang orang bilang. Kekasih orang, adalah seekor ikan Koi. Dapat dinikmati keindahannya, tapi tak dapat di makan. Ya. Dia hanya ku dapat kunikmati dari kejauhan, dengan kedua mataku. Aku mencoba untuk menggapaimu, tapi tanganku terikat untuk bisa membelai pipimu. Aku terluka.”
“Di siang hari, lonceng makan pun berbunyi. Aku dengan tubuhku yang sudah tak semangat lagi ini pergi ke ruang makan. Kulihat dia juga turun untuk makan siang. Setelah kegiatan makan siang selesai, aku dapat tugas piket untuk membersihkan ruang makan. Dan hari itu hari rabu, piketku bersamaan dengan dia, juga sahabatnya. Saat membersihkan ruang makan, ica mendatangiku dan berkata,
“Kamu sms-an sama dea ya?” (Ya, nama si doi adalah Dea)
“Apa? Enggak ada kok.”
Lalu aku pergi menjauhinya. Aku takut. Aku tidak ingin orang lain tau tentang aku dan Dea. Aku hanya tidak mau persahabatanku hancur cuma gara-gara seorang wanita.
Ica menghampiriku lagi, dan berkata..
“Kamu gak usah bohong deh, Dea sendiri yang cerita sama aku.”
“Aku gak ada sms-an Ica. Aku gak pernah negur dia..”
“Tapi kamu pernah nyimpan rasa kan ke dia!”
“Aku.. Ah sudahlah ca. Aku tak mau mendengar namanya lagi.”
“Yasudah. FYI aja sih. Dia senang waktu kamu sms-in. Dia senang. Senang sekali.”
….“Ceritakan lebih tentangnya!”
“Katanya tadi gak mau dengar namanya lagi. Gimana sih?”
“Aku….. Oke. Sore ini kita bicarakan tentang dia di kantin sekolah. Bisa kan?”
“Nah gitu dong. Oke aku bisa.”
Dan pada sore hari, gue ketemuan sama Ica di sebuah kantin di sekolah. Untuk membahas sebuah nama, yang buat gue penasaran tentang perasaanya. Ihik.
“Hmm. Dia itu sebenarnya lagi ‘Dingin-dingin’-an sama pacarnya. Dia jenuh. Dan dia senang waktu kamu sms-in. dia juga suka sama kamu. Setiap kali dia menerima sms darimu, dia kesenangan sendiri. Aku juga gatau itu sms dari siapa. Dan ternyata itu sms dari kamu. Hahaha..”
“Emm. Seriusan ini? Kamu gak bohongin aku kan?”
“Ya buat apa juga aku bohong? Aku cuma mau kamu, terus dekatin dia. Aku senang liat dia senang. Dan dia senang saat kamu menghubunginya.”
“Lalu bagaimana dengan Vino?” (Ini nama samaran. Soalnya sahabat gue ngebet banget di panggil Vino. Pfft)
“Ya setauku sih, dia orangnya easy going. Yang berlalu ya biarlah berlalu. Jadi kamu deketin aja si Dea. Lagian hubungannya lagi gak baik.”
“Please… Mau aku bilang berapa kali?”
“Iya-iya..”
Di sana.
Hari demi hari berlalu, dan semakin banyak kali matahari terbit dan tenggelam, semakin aku menerbitkan rasa sayangku padanya, dan menenggelamkan tentang masa lalu yang kelam bersamanya.
Jika aku hilang ingatan, hal yang pertama kali aku lupakan adalah kenangan buruk di masa lalu bersamanya.
Aku mulai membayangkan, untuk memilikinya bukan hanya sebatas pesan singkat. Aku membayangkan, kelak dia akan terus bersamaku.
Malamku adalah malamnya. Saat aku berpapasan dengannya, aku merasa seperti De Javu. Oh iya, aku baru ingat. Aku selalu memimpikannya.
Sebenarnya gue masih rada berat nyebut namanya Vino. Iya, Vino Bastian. Mirip helai rambutnya aja kagak. Tapi sebagai tanda maaf karena tengah menikung, gue sebut deh dia Vino.
Yaudahsih-able banget. Huft.
Vino merencanakan ulang tahun nya dengan cara gathering terus makan-makan karokean seangkatan. Ya Vino emang orang yang ‘berduit’.
Enak situ berduit. Lah gue? Ganteng doang. Oke kembali ke diary..
“Hari itu, aku sedang mengetik perijinan untuk ultahnya Vino. Semua ini kulakukan agar aku bisa berada jarak yang dekat dengan Dea, dan tak ada satupun yang akan curiga. Dia sekarang tepat berada di depanku. Sangat dekat sekali. Mungkin sekarang aku sudah sangat dekat dengan kebahagiaan.
“Ah.. Iya ini pulang kok..”
“Aku anterin ya?”
“Eum.. boleh deh..”
“Tapi aku haus. Kita beli minuman dulu yuk.”
“Serah kamu aja, aku ngikut”
Kalo aku bawa ke penghulu, kamu mau ikut? Heuheuheu. Si doi merespon banget waktu itu. Menaruh harapan yang besar. Sangat besar.
“Aku gak deh, kamu aja..”
“Beneran nih? Aku bayarin loh..”
“Hehehe.. iya aku gak minum.. kamu aja.”
“Oke deh..”
Akhirnya, gue beli Kiranti. Ah bukan. Gue beli Indomilk rasa coklat. Sebenarnya, kalo pas gue tawarin beliin minum, terus dia bilang “mau”, gue bakal beliin dia Aqua gelas dingin 2 biji. Pffffttt.
Lah, sampai di mana diary gue tadi?
“Aku anterin sampe di sini aja ya? Gak enak sama yg lain”
“Iya gapapa kok..”
“Hati-hati ya dijalan.. banyak aspalnya..”
“……….”
“hehe.”
“Daahh.. kamu juga hati-hati ya..”
“Iya aku hati-hati..”
Aku pun pulang dengan hati-hati. Ya, aku takut terjatuh. Aku takut senyumannya muncul kapan saja lalu menabrak pandanganku di saat aku lengah. Dan begitu aku tersadar, aku tengah terkapar.
Keesokan harinya, Ulang Tahun Vino pun di mulai. Seluruh angkatan kami pergi ke sebuah tempat karaoke. Aku hancur sekali. Kapal besarku menabrak gunung es. Lalu karam. Aku melihat dia berpegangan tangan dengan Vino. Tapi tatapan matanya menuju kepadaku. Jemarinya ada di genggaman yang lain, matanya ada di genggaman mataku.. Aku mencoba mendekatinya dengan membawa sebuah kamera. Aku mengambil gambar mereka berdua. Mata Dea tidak menatap pada lensa kamera. Ia menatap mataku. Maafkan aku sahabatku, wujudmu tak ada lagi di dalam tatapannya.
Setelah dari tempat karaoke, kami menuju sebuah cafe, dimana aku duduk semeja dengan mereka berdua. Lagi-lagi aku hancur. Melihat Dea menyuap romantis Vino di hadapanku. Tapi di selah keromantisannya, dia sering sekali melihatku. Aku menikmatinya. Aku pun memungut kembali serpihan hati yang tadi hancur. Malam ini semua rasa bercampur. Aku bingung, harus seperti apa aku lantunkan puisi malam ini.
Dan ternyata, puisi terbentuk keesokan harinya. Setelah ultahnya selesai, keesokan harinya aku meminta sebuah pertemuan dengan Dea. Dan dia menyanggupinya. Kami bertemu di sekolah pada sore hari. Kali ini dia bersama sahabatnya, ya Ica. Kami berjalan bertiga, kemudian duduk di sebuah koridor. Dan Ica memecahkan keheningan di antara kami.
“Dea, aku ke toilet dulu ya.. Perut aku sakit”
“Ah? Iya ca. cepet balik ya..”
Namun, hingga lebih setengah jam, Ica tak juga kunjung kembali. Suasana menjadi awkward. Aku melihatnya, dan untuk ke sekian kalinya aku menawarkan pembicaraan ringan.
“Ica mana, ya? Udah setengah jam gak balik..”
“Iya nih.. Dari tadi gak balik-balik..”
“Mungkin sengaja kali, biar kita bisa berduaan. Hehe..”
“ah kamu. Tapi.. mungkin sih..”
“Gimana kalau kita keliling-keliling aja dulu?”
“Hemm.. ayok aja..”
Kami berkeliling, memutari area sekolah, tapi hatiku mengelilingi senyumannya.
Apa? Biarkan ‘mengalir’ katamu? Apakah kau tahu, aku telah ‘hanyut’ karenamu.
Kami memutuskan untuk duduk di sebuah tangga, suasana begitu sepi. Sore itu sangat sejuk, seakan senja tak mau muncul untuk membuat kami terpisah. Aku duduk tepat di sebelahnya. Sangat dekat. Aku menatap wajahnya, dan dia hanya tertunduk. Dia tak berani menatap mataku. Ya Tuhan, bagaimana bisa aku begitu mencintainya? Aku sangat menyayanginya. Seakan tak mau senja muncul dan memisahkan aku dengan dirinya.
Aku menatap matanya dalam, dan berkata..
“De. Kamu lebih milih aku atau Vino?”
Dia hanya diam. Dia hanya tertunduk, dia tak menjawab. Dan aku tanyakan lagi..
“De. Kamu lebih sayang sama aku atau Vino?”
Dia tetap diam.
Dia hanya diam. Aku kecewa sekali. Aku memalingkan hadapanku, jauh meninggalkan kedua matanya. Dan di dalam berpalingku, dia memelukku dari belakang dan berkata..
“Aku lebih milih kamu. Aku sayang sama kamu daripada dia..”
Sejenak kami terdiam. Suasana menjadi begitu hening.. Aku tersentuh. Di dalam pelukannya, aku tertunduk pada kedua matanya. Aku melihat dia dengan jarak yang sangat dekat. Di dalam pelukannya, kami bertatapan. Lalu dia menunduk. Aku melihatnya lebih dalam, dan dia juga melihatku. Kami benar-benar tersesat saat itu. Aku mendekatinya.. pelukannya semakin erat, dan aku menggenggam erat tangannya. Terasa sekali degub jantungnya di dadaku. Seakan kami mempunyai jantung yang satu. Yang sama. Sama seperti rasa di antara kami berdua..
Di dalam sebuah pelukan. Di eratnya gengganman. Di terikatnya tatapan.
Aku..
Dan..
Kami..
….